Postingan

PERJAMUAN PAGI

Gambar
  Tiga perempuan asing duduk di kursi rotan, menghadap satu meja bundar dengan tiga cangkir kopi panas tersaji di atasnya. Mereka mulai berceloteh tentang mimpi. Perempuan berwajah ramah, yang di negerinya sedang terjadi wabah besar-besaran, mengawali kisah. “Aku bermimpi, rekan kerjaku mendadak diserang flu dan gatal-gatal di kepala saat kami sedang menghadiri sebuah rapat kerja yang dipimpin oleh Yang Mulia Tuan Kami.”   Dua perempuan pendengar tubuhnya bergidik.   Lantas perempuan cantik yang parasnya menjadi sayu semenjak ditinggal mati anaknya menyambung cerita. “Semalam sebuah mimpi kembali mempertemukan aku dengan anakku. Lama tinggal di surga, dia tampak semakin tampan.” Cerita selesai dan mata perempuan itu berkaca-kaca.   Dua perempuan pendengar matanya ikut berkaca-kaca.   Tiba giliran perempuan terakhir menuturkan bunga tidurnya. Mukanya terlihat paling murung dan mengantuk dan mengundang rasa iba. “Aku baru saja kehilangan banyak h...

RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)

Gambar
Babak Satu   Aku berjalan menyusuri sebuah gang perumahan elit bersama seorang perempuan berwajah asing yang tiba-tiba saja sudah menjadi kawanku. Ia perempuan berkarakter bebas dan dengannya aku yang selalu ingin tahu banyak hal ini cepat merasa akrab.   Kami terus melangkah hingga sampai di depan gerbang rumah tua berarsitektur Jepang yang tampak sepi. Kawanku berkata bahwa dulunya ia sering masuk ke rumah itu sekadar numpang lewat untuk mencapai gang belakang tanpa harus repot-repot berputar jauh. Dan ia mengajakku masuk.   Dan aku mengiyakan ajakannya, dan kami benar-benar meringsek masuk ke rumah tua berarsitektur Jepang itu tanpa permisi.   Kami menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tak ada siapa pun. Segala-galanya terlihat mulus dan menyenangkan sampai tiba kami di tangga yang berkelok dan menurun ke arah area gang belakang rumah. Di sana aku mendapati kepala seorang lelaki menyembul, dan kepala itu menengok ke arah kami. Aku mengatakannya ke...

"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN

Gambar
  Ketika film "Payung Dara" karya Reni Apriliana selesai diputar dan moderator bertanya kepada para penonton tentang bagaimana perasaan mereka setelah menonton film itu, aku menjadi salah satu penonton yang menjawab dengan lantang, “jengkel, Mas!” KELUARGA YANG GAGAL MEMBERI PENDAMPINGAN Film diawali dengan adegan seorang bocah perempuan berusia tiga belas tahun yang sedang berusaha menutupi dadanya menggunakan stagen/kemben. Ia adalah Dara si tokoh utama, yang kebingungan atas payudaranya yang mulai tumbuh membesar. Dalam pikirannya saat itu, stagen adalah solusi. Sampai ia berada pada jam pelajaran olahraga di lapangan sekolah, melakukan gerakan sit up , dan mendapati teman-teman lelakinya memandangi payudaranya yang mulai tumbuh itu sambil mengeluarkan kata-kata cabul. Dara yang tidak nyaman pun pergi ke kamar mandi, dan menemukan bahwa bukan ia satu-satunya perempuan yang merasa pelik atas periode pubertasnya. Di kamar mandi itu Dara menyaksikan dua orang perempuan ya...

KOTORAN

Gambar
Woman in the Dark (@welderwings) Sekarang, tepatnya mulai beberapa bulan lalu, aku memiliki kebiasaan mengorek liang kuping setiap satu hari sekali. Namun hari ini aku tak bisa mendengar suara apa pun – artinya kemarin aku lupa mengorek liang kuping karena terlalu sibuk mengorek liang-liangku yang lain yang sepanjang hari sejak beberapa bulan lalu juga menjadi sama saja cepat kotornya mengikuti nasib liang kupingku itu.   Maka saat kekasihku tiba-tiba sudah berada di ruang tamu, aku buru-buru mengambil alat pengorek liang kuping dan memainkannya secepat mungkin sebab kulihat pergerakan mulut kekasihku tak seperti biasanya – semacam sedang mengungkapkan sesuatu yang sesuatu itu sebelumnya belum pernah kudengar keluar dari bibirnya yang selalu tampak manis di hadapan banyak orang. Aku berkata, “Sebentar, ya!”   Meski tak kurasakan suaraku muncul, tapi kekasihku mengangguk dan menghentikan gerak mulutnya yang berarti ia mendengar. Lantas kotoran-kotoran itu kembali menguc...

SEDIKIT LAGI IA MIRIP DIOGENES

Gambar
  Diogenes (Jean Leon Gerome - 1860) Aku belum bisa memahami jalan pikiran salah seorang temanku saat itu, ketika kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar, lalu tiba-tiba ia berdiri – berjalan – berhenti tepat di depan papan tulis kelas – membalik badan – membuka resleting celana dan sambil tertawa-tawa ia pamerkan kelaminnya di hadapanku dan perempuan-perempuan lain yang juga sedang berada di dalam kelas.   Menyaksikan bentuk kelamin laki-laki secara langsung, jelas, medadak, dan tanpa persetujuan membuat semua penonton berteriak histeris.   Dan walaupun aku juga histeris di awal, dengan didorong gagasan jahil sekaligus tanya perihal apakah temanku ini benar-benar gila atau tidak, kusuruh ia membuka celananya di tengah lapangan sekolah, dan ia melakukannya.   Ia melakukannya dalam pengaruh suka cita berlebih sampai arus lalu lintas di lapangan sekolah kami berubah kacau : semua pejalan yang dengan tidak sengaja menonton aksinya mendadak menjadi...

SEBUAH KEMATIAN YANG MEMBUATKU INGIN MENULIS

Gambar
  The Day of the Dead (William Adolphe Bouguereau - 1905) Rumah kecil dengan banyak orang lalu lalang itu terletak persis di samping gereja tua. Aku memasukinya dan mendapati rekan kerjaku masih saja menangis meratap hingga nyaris pingsan untuk kesekian kali. Mas Ari mati tanpa aba-aba. Dan sambil tetap menangis, kepada semua orang yang berkumpul di rumah itu rekan kerjaku bersumpah bahwa Mas Ari adalah sebaik-baiknya lelaki yang sudah sepatutnya mendapat pengampunan dari Tuhan maupun orang-orang yang secara konyol memutuskan untuk membencinya.   Sejujurnya aku sendiri tak begitu mempermasalahkan jika akhirnya Mas Ari memilih pergi ke pangkuan Tuhan. Saat rekan kerjaku menelepon-mengabariku bahwa Mas Ari tiba-tiba mati, aku terkejut dan menitikkan air mata satu kali, lalu buru-buru mengusapnya dengan tissue karena anak-anak didikku mulai bertanya apakah aku baik-baik saja, dan kujawab iya. Selanjutnya kurasa memang seharusnya aku baik-baik saja karena aku bahkan baru sek...

BAKPAO HANUM

Gambar
Biar kuceritakan sedikit. Dulunya aku ini seorang anak Sekolah Dasar yang biadab: jahil tak ketulungan. Setiap hari harus ada teman sekelas yang menjadi tumbal kegatalan tanganku. Aku hanya akan berhenti dan merasa puas apabila teman yang kujahili itu sudah menangis – yang kemudian aku bakal membungkuk-bungkuk sembari meminta maaf dengan wajah memelas agar korbanku itu tidak melaporkanku kepada orangtuanya. Aku takut. Zaman itu adalah musim lapor-lapor oleh anak ke orangtua. Disenggol sedikit, anak bakal langsung memaksa orangtua mereka untuk datang ke sekolah guna menegur atau bahkan memarahi dan kalau bisa langsung mengeksekusi pelaku kenakalan menggunakan tamparan atau jeweran. Suatu ketika selepas jam pelajaran olahraga, tanganku mendadak gatal. Aku melihat kawanku yang namanya kusamarkan menjadi Hanum, sedang menulis-nulis entah tulisan apa di papan tulis kelas. Kudekati ia perlahan. Tanpa merasa canggung langsung kupelorotkan celananya yang kedodoran. Ia sontak menganga, ak...