Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

CAMUS DAN L'ETRANGER SEBAGAI TERAPI JIWA YANG SAKIT

Gambar
Segala-galanya telah selesai. Dan aku merasa tidak begitu kesepian lagi. Lega. Dan sisa harapan yang ada adalah semoga pada hari pelaksanaan hukuman matiku akan banyak orang yang menyaksikannya. Dan mereka akan memberikan penghormatan padaku berupa teriakan-teriakan kutukan dan cacian . (The last page of L’Etranger ) Pengarang adalah tuhan kecil dan tuhan kecil adalah sosok yang selalu disudutkan oleh keinginan-keinginan manusiawinya tuhan-tuhan besar. Sebagaimana tuhan-tuhan besar sering menuntut akhir dari sebuah cerita harus terlihat membahagiakan, atau minimal menyedihkan yang heroik, maka Albert Camus telah menjadi tuhan kecil yang mengingkari aturan. Realita bagi manusia-manusia biasa merupakan kehidupan absurd dan harapan-harapan yang agung hanyalah suatu bentuk percobaan memalingkan muka dari absurditas itu sendiri. Alih-alih menampik kemonotonan jalan hidup yang dibangun oleh Camus, Meursault justru sama sekali tidak tertarik melakukannya. Barangkali karena Meursaul...

MANUSIA UNGGUL

Gambar
Manusia itu eksistensi bukan esensi. Demikian pula kelamin adalah benda dan gender merupakan sifat. Dalam hal ini, aku lebih memilih menjadi manusia yang hidup eksis berkelamin tapi tanpa gender. Sebab mengaku-ngaku sebagai pemilik satu gender itu repot, apalagi dua, tiga. Semua manusia adalah setara jika saja mereka tak melangsungkan debat kusir mengenai gender mana yang paling unggul, atau melakukan demo yang berisi tuntutan kesetaraan gender. Omong kosong. Sudah kukatakan sebelumnya, manusia adalah eksistensi. Unggul maupun tidaknya manusia bergantung pada sejauh mana otak mau diajak berpikir, bukan seindah apa vagina dan penis yang mereka miliki (catatan: kebanyakan masyarakat Indonesia mengutuk keras bentuk kelamin yang menyimpang dari jenis gender). Manusia yang merasa terbebani oleh esensi gender merupakan semalang-malangnya makhluk. Ibarat hidup segan, mati silakan. Sedang Tuhan yaitu sebaik-baiknya Dzat, yang membuat-Nya tampak kejam adalah ceramah neurotik hamba...