Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

BERAGAM MATI

Gambar
Usiaku menginjak 21 sejak lima belas hari lalu. Kata kawan ibuku yang mengaku memiliki ajian Nyi Roro Kidul, umurku bakal panjang. Padahal aku sendiri sering begadang sampai pagi, minum kopi imitasi, makan mie instan, tak suka air putih, tinggal di kota, menjalin LDR, jarang curhat, dan sekarang juga jarang olahraga. Aku tidak percaya ramalan, dan kupikir aku akan mati muda seperti Chairil Anwwar atau Kurt Cobain, tapi jika demikian penerawangan kawan ibuku maka kuanggap itu sebagai do'a saja. Sudah beberapa kali aku hampir mati. Waktu bayi, tubuhku digencet oleh orang dekat hingga keluar darah dari anus, kemudian seorang dekat yang lain memergoki dan menolong, akhirnya aku tumbuh besar. Mempercayai orang dekat sepenuh jiwa adalah salah satu kesalahan fatal yang lebih baik jangan diulangi. Suatu ketika aku melakukan kekeliruan sepele yang membuat orang terdekatku tersinggung, ia marah, tapi tertawa, sambil tangannya berusaha meluncurkan serangan fisik: menurutku ia menjelma s...

CAMUS DAN L'ETRANGER SEBAGAI TERAPI JIWA YANG SAKIT

Gambar
Segala-galanya telah selesai. Dan aku merasa tidak begitu kesepian lagi. Lega. Dan sisa harapan yang ada adalah semoga pada hari pelaksanaan hukuman matiku akan banyak orang yang menyaksikannya. Dan mereka akan memberikan penghormatan padaku berupa teriakan-teriakan kutukan dan cacian . (The last page of L’Etranger ) Pengarang adalah tuhan kecil dan tuhan kecil adalah sosok yang selalu disudutkan oleh keinginan-keinginan manusiawinya tuhan-tuhan besar. Sebagaimana tuhan-tuhan besar sering menuntut akhir dari sebuah cerita harus terlihat membahagiakan, atau minimal menyedihkan yang heroik, maka Albert Camus telah menjadi tuhan kecil yang mengingkari aturan. Realita bagi manusia-manusia biasa merupakan kehidupan absurd dan harapan-harapan yang agung hanyalah suatu bentuk percobaan memalingkan muka dari absurditas itu sendiri. Alih-alih menampik kemonotonan jalan hidup yang dibangun oleh Camus, Meursault justru sama sekali tidak tertarik melakukannya. Barangkali karena Meursaul...

MANUSIA UNGGUL

Gambar
Manusia itu eksistensi bukan esensi. Demikian pula kelamin adalah benda dan gender merupakan sifat. Dalam hal ini, aku lebih memilih menjadi manusia yang hidup eksis berkelamin tapi tanpa gender. Sebab mengaku-ngaku sebagai pemilik satu gender itu repot, apalagi dua, tiga. Semua manusia adalah setara jika saja mereka tak melangsungkan debat kusir mengenai gender mana yang paling unggul, atau melakukan demo yang berisi tuntutan kesetaraan gender. Omong kosong. Sudah kukatakan sebelumnya, manusia adalah eksistensi. Unggul maupun tidaknya manusia bergantung pada sejauh mana otak mau diajak berpikir, bukan seindah apa vagina dan penis yang mereka miliki (catatan: kebanyakan masyarakat Indonesia mengutuk keras bentuk kelamin yang menyimpang dari jenis gender). Manusia yang merasa terbebani oleh esensi gender merupakan semalang-malangnya makhluk. Ibarat hidup segan, mati silakan. Sedang Tuhan yaitu sebaik-baiknya Dzat, yang membuat-Nya tampak kejam adalah ceramah neurotik hamba...

UMPATAN KAUM KURUS

Gambar
Biar kurus Kami lurus Tidur bergerak bernapas Tanpa sudi merampas Meski sering dihempas Biar kurus Kami tulus Kerja terus lupa libur Walau si atasan ngawur Jatah karyawan digondol kabur Biar kurus Nurani kami tak pernah mampus Wedhus!

TENTANG DESA

“Selalu ada kerinduan samar-samar yang menyeruak pada kenangan masa kecil di perdesaan, perihal rasa damai misalnya.” ● Sore itu, matahari perlahan meredup ke ufuk barat. Padi-padi melambai lamban diterpa angin. Sahabat mengajakku pulang, melewati gundukan pematang sawah yang tersiram cahaya kuning keemasan. Tangan kami menenteng sekantung ikan hasil memancing bersama di telaga. ● Embusan angin Subuh membuat dinding rotan gubuk kami berderit pelan. Kudekati nenek yang sedang duduk mencangkung di dekat tungku perapian. “Singkong rebusnya sudah matang jika kau lapar,” ucapnya kala itu. ● Siang, mendung berarak. Embus angin menyibak tenang air telaga di ujung sana.