CAMUS DAN L'ETRANGER SEBAGAI TERAPI JIWA YANG SAKIT


Segala-galanya telah selesai. Dan aku merasa tidak begitu kesepian lagi. Lega. Dan sisa harapan yang ada adalah semoga pada hari pelaksanaan hukuman matiku akan banyak orang yang menyaksikannya. Dan mereka akan memberikan penghormatan padaku berupa teriakan-teriakan kutukan dan cacian.
(The last page of L’Etranger)

Pengarang adalah tuhan kecil dan tuhan kecil adalah sosok yang selalu disudutkan oleh keinginan-keinginan manusiawinya tuhan-tuhan besar. Sebagaimana tuhan-tuhan besar sering menuntut akhir dari sebuah cerita harus terlihat membahagiakan, atau minimal menyedihkan yang heroik, maka Albert Camus telah menjadi tuhan kecil yang mengingkari aturan.

Realita bagi manusia-manusia biasa merupakan kehidupan absurd dan harapan-harapan yang agung hanyalah suatu bentuk percobaan memalingkan muka dari absurditas itu sendiri. Alih-alih menampik kemonotonan jalan hidup yang dibangun oleh Camus, Meursault justru sama sekali tidak tertarik melakukannya. Barangkali karena Meursault adalah Camus dan Camus adalah Meursault. Sayangnya kepala Camus terlalu menawan untuk sekadar terpenggal sia-sia di hadapan kerumunan umum atas nama kepandiran hakim. Namun itulah hidup yang, selalu sia-sia, selalu absurd. Dan sebagai salah satu tuhan besar, aku patut mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Albert Camus!

Sedikit – tapi aku rasa hampir tidak ada – orang yang sanggup untuk tidak bersedih hati ketika apa yang mereka cintai pergi dalam kurun waktu selama-lamanya. Atau sebaiknya kukatakan lagi satu contoh yang jauh lebih sederhana: manusia bahkan bisa mendadak skizofrenia saat mengetahui bahwa kekasihnya pergi menjauh untuk sekadar mencari rumah lain yang bentuknya lebih indah. Manusia adalah manifestasi dari sebuah kompleksitas.

Kompleksitas yang sama sekali tidak aku temukan pada pribadi Meursault.

Ia menyarankan padaku agar aku ke kamar makan untuk makan malam, tapi aku tidak lapar. Lalu ia menawarkan semangkok café au lait. Aku mengucapkan terima kasih. Karena memang aku senang pada café au lait. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan sebuah baki. Kopi kuminum, lalu aku ingin merokok. Tapi aku bimbang sejenak, apakah aku pantas merokok dalam suasana seperti itu, di mana mayat ibuku terbaring di sana. Aku mempertimbangkannya lagi, dan sungguh hal itu tidaklah akan menjadi masalah. Aku menawarkan sebatang rokok pada penjaga pintu itu, lalu kami berdua merokok.
(Page 11 of L’Etranger)

Orang-orang ingin selalu hidup, tapi kenyataan berkata bahwa mereka akan mati. Dan khayalan tentang dunia kedua setelah mati adalah bentuk dari suatu keegoisan manusia untuk terus hidup. Maka kematian dianggap sebagai ritus sakral. Tak boleh ternodai oleh barang secangkir kopi atau sepuntung rokok guna sekadar melepas tekanan. Keruwetan manusiawi. Yang barangkali hampir sama seperti Meursault; aku pernah mengalami kebimbangan serupa pada hari pertama adik kandungku mengembus napas terakhir di bangsal rumah sakit karena gagal ginjal yang berujung komplikasi. Apa kau pikir aku sedih? Tentu saja. Hanya aku tak banyak menangis dan ketika dua orang saudara mengajakku pergi ke sebuah kebun binatang setelahnya, aku tidak menolak. Meski tak ada yang terlihat istimewa juga di sana. Harimau-harimau lelap, monyet bergelantungan, gajah kelaparan, orang utan yang mengais-ngais sampah lemparan pelancong, cuma itu dan aku pulang dengan tidak begitu bahagia.

Sekarang aku sedang menyesap kopiku yang nikmat dan kupikir tidak salah juga kalau hari ini aku mulai mencintai Camus atau Meursault. Siapa pun yang jiwanya sakit, hendaknya perlu diberi obat ketimbang dibiarkan bunuh diri. Dan L’Etranger adalah salah satu ramuan paling mujarab yang pernah aku baca. Jadi sekali lagi, terima kasih, Camus!

Setiap karya selalu memiliki ruh yang tidak akan sanggup ditiupkan oleh bibir seorang spoiler. Maka kukatakan dengan tegas bahwa apa yang Camus tuangkan dalam L’Etranger hanya bisa berpengaruh sebagai obat sakit jiwa ketika kau berkenan untuk tidak malas membacanya secara langsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJAMUAN PAGI

"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN

RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)