"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN

 


Ketika film "Payung Dara" karya Reni Apriliana selesai diputar dan moderator bertanya kepada para penonton tentang bagaimana perasaan mereka setelah menonton film itu, aku menjadi salah satu penonton yang menjawab dengan lantang, “jengkel, Mas!”


KELUARGA YANG GAGAL MEMBERI PENDAMPINGAN

Film diawali dengan adegan seorang bocah perempuan berusia tiga belas tahun yang sedang berusaha menutupi dadanya menggunakan stagen/kemben. Ia adalah Dara si tokoh utama, yang kebingungan atas payudaranya yang mulai tumbuh membesar. Dalam pikirannya saat itu, stagen adalah solusi.

Sampai ia berada pada jam pelajaran olahraga di lapangan sekolah, melakukan gerakan sit up, dan mendapati teman-teman lelakinya memandangi payudaranya yang mulai tumbuh itu sambil mengeluarkan kata-kata cabul.

Dara yang tidak nyaman pun pergi ke kamar mandi, dan menemukan bahwa bukan ia satu-satunya perempuan yang merasa pelik atas periode pubertasnya.

Di kamar mandi itu Dara menyaksikan dua orang perempuan yang sebaya dengannya sedang bercakap. Salah seorang perempuan mulai menangis tersedu atas nada pelecehan yang juga ia terima dari teman laki-laki atas payudaranya yang tumbuh. Respon negatif dari lingkungan sekitar membuat perempuan yang menangis itu takut jika payudaranya kian membesar. Perempuan lain yang ada di hadapannya mencoba menenangkan dengan berkata bahwa memakai kutang mungkin bisa menyelamatkannya. 

Dan setiba di rumah, kepada sang nenek Dara bertanya tentang kapan ia akan dibelikan kutang. Nenek Dara yang memiliki gangguan pendengaran justru memberi nasehat yang membuat Dara terdiam, "Aja sok seneng duwe utang. Cah cilik aja utang." (Jangan suka punya hutang. Anak kecil jangan berhutang).

Selain nenek, di dalam rumah itu Dara juga punya seorang paman yang belum menikah, Aman namanya. Tapi alih-alih membuat Dara merasa aman, malah sebaliknya. Saat Dara mengetuk pintu kamar Paman Aman, tak ada jawab selain suara desahan pamannya itu. Paman Aman sedang masturbasi, ditemani earphone di telinga dan sebuah kutang yang diremas-remas pakai kedua kaki. Dara yang takut pun pergi.

Dara yang bingung dan cemas dan merasa tidak aman itu gagal mendapatkan pendampingan dari keluarganya sendiri.

BAGAIMANA DARA MENEMUKAN "SOLUSI SEMENTARA" DAN BUDAYA MISOGINIS-PATRIARKI YANG MEMBUAT AKAR MASALAH TERUS MENJALAR

Gagal memperoleh jawab atas keresahannya dari dalam rumah, Dara mencoba mencarinya di luar dan menemukan petunjuk bahwa jika ia ingin kutang, ia harus pergi ke pasar.

Perjalanan seorang diri di pasar mempertemukan Dara dengan pedagang majalah dewasa baik hati yang memberi Dara satu majalah dewasa secara cuma-cuma untuk "dipelajari" sebelum akhirnya Dara benar-benar menjumpai pedagang kutang, menerima edukasi tentang cara memilih kutang yang benar, mendapatkan kutangnya, dan membawa kutangnya pulang dengan hati gembira. 

Sayangnya sampai di sini, masalah belum selesai.

Ingat betapa teman-teman lelaki Dara senang memandang payudaranya - juga payudara perempuan lain, dengan tatapan tengil dan ujaran cabul? Semua itu ada gurunya!

Dara dan sahabatnya, Dina, sedang berjalan melewati salah satu ruang kelas ketika mereka memutuskan untuk berhenti sejenak, mengintip dan mendengarkan Bapak Guru menjelaskan tentang pelajaran biologi kepada semua murid di kelas itu.

Awalnya Bapak Guru mendeskripsikan secara baik perihal apa saja yang akan terjadi ketika murid sudah memasuki tahap awal pubertas, dan penjelasan ditutup oleh seloroh menjijikkan yang diakhiri dengan tawa menggelegar yang didominasi murid lelaki.

Bapak Guru yang tak tahu malu itu menganjurkan perempuan untuk senantiasa menutup aurat, agar kaum lelaki tidak timbul hasrat. Dan dengan tanpa berdosa ia menambahkan bahwa laki-laki suka dengan "barang besar", sambil tertawa-tawa, seolah melegalkan murid lelaki untuk melakukan pelecehan seksual ketika melihat sesuatu yang menonjol terlihat dari tubuh perempuan.

Pertanyaannya : Mengapa selalu perempuan yang disudutkan dan bukan lelaki saja yang disuruh menjaga hawa nafsunya? Bagaimana dengan perempuan yang memiliki tubuh berisi sehingga mau ditutup seperti apa pun bagian tertentunya akan tetap menonjol? Mengapa dalam berbagai kasus perkosaan, banyak juga perempuan berpakaian serba tertutup menjadi korban? Jawabannya satu, budaya misoginis-patriarki! Yang di sini dilanggengkan oleh Bapak Guru, lalu diterima dan meresap ke alam bawah sadar murid-murid lelaki.

Dara mungkin sedang berhalusinasi ketika ia merasa tangan seorang lelaki dewasa menarik tali kutangnya dari belakang. Ia gelagapan dan mengajak Dina mundur meninggalkan kelas celaka itu.

Puncak penderitaan adalah ketika Dara tahu bahwa kutang yang baru saja ia beli diam-diam dipakai oleh pamannya sebagai objek masturbasi.

Di kamar, Dara menangis sambil mendekap nenek. Di sekolah, ia menangis di bahu Dina sambil berkata, "Awake dewe iki kudune isa kaya gunung kae lho, Na. Nek nesu ya nesu. Kabeh mudeng yen wayahe nesu." (Diri kita ini mestinya bisa seperti gunung itu lho, Na. Kalau marah ya marah. Semua paham kalau saatnya marah).


SIMBOL KONTRADIKTIF YANG PATUT MENJADI BAHAN REFLEKSI

Dara barangkali merepresentasikan banyak remaja perempuan dalam realitas yang masih kesulitan memperoleh akses dan pendampingan terhadap pendidikan seksual, juga penerimaan atas tubuh oleh lingkungan sekitar.

Jika ditilik ke belakang, sebetulnya pedagang majalah dewasa secara tidak langsung telah membuka jalan bagi Dara untuk mengenali sekaligus mencintai tubuhnya sendiri. Terdapat tulisan "tubuhmu milikmu" dan "respect yourself" di dalam majalah itu yang bertendensi bagus bagi Dara, juga perempuan-perempuan lain yang merasa kurang atau malah membenci tubuh mereka.

Namun saat diperhatikan melalui lensa zoom out, penonton juga disuguhi gambaran bahwa sebagian besar (bahkan mungkin seluruh) model majalah dewasa di lapak pedagang itu adalah perempuan. Perempuan yang diletakkan sebagai benda bervisual menggairahkan pemuas berahi lelaki. Lagi-lagi, perempuan harus diobjektifikasi sedemikian rupa bahkan dalam tujuan baiknya memberi ajakan untuk mencintai diri dan tubuh sendiri.

Ketimpangan dari segi pendidikan menjadi salah satu penyumbang besar pada kacaunya manusia memandang suatu persoalan. Adegan di mana Dina menyuruh Dara mengecilkan suara saat menyebut kata "kutang" yang dianggap memalukan, dan adegan saat murid-murid lelaki dengan tanpa rasa malu melecehkan bentuk payudara Dara secara verbal di lapangan sekolah, adalah dua simbol yang menggambarkan betapa "pendidikan" belum becus memberantas cacat pikir orang-orang kebanyakan.

Kutang sebagaimana benda lain yang dibutuhkan umat manusia, harusnya tak perlu diucapkan dengan suara lirih dan kepala menunduk. Kutang, pembalut, dan celana dalam adalah contoh benda dan memang sebatas benda. Perempuan diminta untuk tidak mengatakan nama benda-benda itu secara lugas seringkali karena dikhawatirkan akan memancing fantasi seksual laki-laki. Perempuan dituntut untuk menjadi pribadi yang esktra hati-hati dalam bertindak dan berbicara demi dipandang sebagai perempuan baik-baik, namun bagaimanapun mereka masih rentan dilecehkan.

Dan mirisnya pelecehan itu justru dibudidayakan oleh orang-orang yang dianggap sebagai panutan, si Bapak Guru biologi di sekolah Dara misalnya.

Aku membayangkan saat di mana manusia mampu saling memandang dengan tatapan sayang sesama makhluk Tuhan. Saling memahami keberagaman bentuk tubuh, baik laki-laki maupun perempuan sebagai suatu kewajaran, bukan objek yang bisa dilecehkan atas dasar apa pun. Sayangnya setelah kopiku habis, aku sadar kalau ini perkara kompleks. Menggulingkan ketidakadilan yang terstruktur tak semudah mengguling babi di pemanggangan.

Kita bahkan bisa melihat bahwa hal yang paling dekat seperti keluarga pun, juga dapat menjadi pemantik masalah seseorang dalam upaya mengetahui dan menerima dirinya.

Nenek Dara digambarkan sebagai sosok yang penyayang, namun secara harfiah tak mampu mendengar kebutuhan Dara akan kutang. Bagiku ini semacam simbol yang menyatakan keadaan banyak "Dara" lain di luar sana yang juga kesulitan dalam menghadapi masa awal pubertas.

Di dunia nyata, tak sedikit kasus di mana orang dewasa menolak untuk memberi edukasi seksual kepada anak atau anggota keluarga yang dianggap belum cukup umur atas alasan tabu. Akhirnya, ini hanya akan menyulitkan sang anak dalam mengenali dan menerima perubahan yang terjadi pada dirinya di kemudian hari.

Terakhir, bagaimana soal Paman Aman? Ia juga tampak menyayangi Dara dengan memberi Dara uang saku. Melakukan masturbasi sebagai pelampiasan hasrat biologis di saat Paman Aman belum menikah juga sebetulnya masih lebih baik, ketimbang ia memerkosa orang.

Kesalahan fatal Paman Aman adalah membuat kegiatan yang ia lakukan itu menjadi rekaman traumatis di benak Dara. Minimnya komunikasi, ketidaktahuan sang paman atas perubahan yang terjadi pada keponakannya, membuat ia dengan santainya menggunakan kutang Dara sebagai objek masturbasi. Yang meskipun di akhir diikuti penyesalan ketika ia tahu bahwa itu kutang keponakannya sendiri, tapi semua sudah terlambat.

Ini mencerminkan betapa kurangnya komunikasi dapat memperkeruh situasi. Peran orang dewasa terhadap anak tidak cukup sebatas memberi uang lalu diam, menganggap segala hal terutama terkait masa pubertas akan terjadi maupun terjawab seiring berjalannya waktu. Karena sesungguhnya bukan waktu yang bisa memberi jawab, melainkan tindakan dari orang-orang yang peduli.



Semarang, 21 Mei 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJAMUAN PAGI

RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)