PERJAMUAN PAGI
Tiga perempuan asing duduk di kursi rotan, menghadap satu meja bundar dengan tiga cangkir kopi panas tersaji di atasnya. Mereka mulai berceloteh tentang mimpi.
Perempuan berwajah ramah, yang di
negerinya sedang terjadi wabah besar-besaran, mengawali kisah. “Aku bermimpi,
rekan kerjaku mendadak diserang flu dan gatal-gatal di kepala saat kami sedang
menghadiri sebuah rapat kerja yang dipimpin oleh Yang Mulia Tuan Kami.”
Dua perempuan pendengar tubuhnya
bergidik.
Lantas perempuan cantik yang
parasnya menjadi sayu semenjak ditinggal mati anaknya menyambung cerita.
“Semalam sebuah mimpi kembali mempertemukan aku dengan anakku. Lama tinggal di
surga, dia tampak semakin tampan.” Cerita selesai dan mata perempuan itu
berkaca-kaca.
Dua perempuan pendengar matanya
ikut berkaca-kaca.
Tiba giliran perempuan terakhir
menuturkan bunga tidurnya. Mukanya terlihat paling murung dan mengantuk dan
mengundang rasa iba. “Aku baru saja kehilangan banyak hal yang aku cintai, dan
karenanya kupikir mestinya aku bergegas mati.”
Dua perempuan pendengar menjulurkan
masing-masing satu tangan mereka untuk mengusap lembut punggung si penutur
mimpi terakhir.
“Tapi nyatanya aku belum becus
menerima mati bahkan dalam mimpi sekalipun,” ia melanjutkan. “Semalam aku
terbangun dua kali, beberapa mimpi menarasikan jalan kematian paling gelap
namun aku terus melawan, dan perlawananku itu pada akhirnya selalu membuatku
terjaga dalam keadaan tegang dan linglung belaka.”
Mereka bertiga sejenak diam.
Memandang lurus ke arah meja. Tiga cangkir kopi telah mendingin dan dikerubuti
semut. Tapi mereka tetap bersulang dan menenggak kopi dingin bertabur semut itu
sampai habis.
Matahari kian ke tengah. Dari sisa
ampas kopi terakhir yang berhasil mereka jilat, terbit semacam kesepakatan:
mimpi hanyalah manifestasi dari apa yang di dunia nyata sedang mereka pikir dan
tekan dalam-dalam dan masa depan masih bersembunyi di balik ketiak Tuhan.
Tiga perempuan asing itu beranjak
dari kursi rotan. Menghadap dan berjalan ke arah pulang mereka masing-masing.

Komentar
Posting Komentar