RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)


Babak Satu

 

Aku berjalan menyusuri sebuah gang perumahan elit bersama seorang perempuan berwajah asing yang tiba-tiba saja sudah menjadi kawanku. Ia perempuan berkarakter bebas dan dengannya aku yang selalu ingin tahu banyak hal ini cepat merasa akrab.

 

Kami terus melangkah hingga sampai di depan gerbang rumah tua berarsitektur Jepang yang tampak sepi. Kawanku berkata bahwa dulunya ia sering masuk ke rumah itu sekadar numpang lewat untuk mencapai gang belakang tanpa harus repot-repot berputar jauh. Dan ia mengajakku masuk.

 

Dan aku mengiyakan ajakannya, dan kami benar-benar meringsek masuk ke rumah tua berarsitektur Jepang itu tanpa permisi.

 

Kami menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tak ada siapa pun. Segala-galanya terlihat mulus dan menyenangkan sampai tiba kami di tangga yang berkelok dan menurun ke arah area gang belakang rumah. Di sana aku mendapati kepala seorang lelaki menyembul, dan kepala itu menengok ke arah kami. Aku mengatakannya kepada kawanku dan dengan segera kami berlari sekencang mungkin.

 

Kami berlari sekencang mungkin menuju gerbang depan, alarm tanda bahaya nyaring berbunyi, dan rupanya aku tidak berlari sekencang kawanku. Ia berhasil meloloskan diri dari gerbang yang sedikit lagi tertutup rapat secara otomatis dan tidak denganku yang jauh tertinggal dan berpikir bahwa kawanku itu sama bangsatnya dengan manusia kebanyakan.

 

Namun dalam hitungan detik gerbang terbuka lagi dan segerombol lelaki bersenjata datang dari arah luar, juga arah dalam, semua tak begitu pasti. Mereka menangkap dan mendorong kawanku untuk kembali masuk dan seketika setelah kawan brengsekku itu mencoba melakukan perlawanan, mereka melepas tembakan. Satu tembakan yang membuat dada perempuan itu meletus – memuntahkan darah segar. Dan kawanku tewas.

 

Aku tetap hidup. Aku tak tahu mengapa aku dibiarkan tetap hidup dan mematung di hadapan jasad kawan bangsatku yang dadanya meletus dan berlumur darah. Dan itu membuatku linglung.

 

Babak Dua

 

Sekarang menjelang sore, atau siang, tak ada yang benar-benar jelas di sini saat kutemukan diriku sedang berdiri di hadapan gerbang sebuah rumah tua berarsitektur Jepang yang entah milik siapa.

 

Sejujurnya aku tak begitu tertarik untuk terus memandangi rumah itu dan pertanyaan yang berputar-putar di kepala tentang bagaimana aku bisa berdiri di sini justru membuatku tampak seperti gelandangan yang berharap diberi tempat tinggal.

 

Kupikir semestinya aku pergi dan aku sungguh telah mulai melangkahkan kaki ketika dua perempuan asing datang menghampiriku dan ikut menatap ke arah rumah tua itu, dan kami bertiga menatapnya bersama-sama.

 

Kami bertiga tetap berdiri di depan gerbang rumah tua berarsitektur Jepang itu dan segerombol orang berwajah tidak sopan mendadak muncul dan menyuruh kami masuk ke dalam sana – ke dalam tempat yang auranya tidak bagus yang sejak tadi menjadi perhatian kami.

 

Sebelum menuruti perintah mereka (segerombol orang berwajah tidak sopan yang kurangajar ini), aku menyempatkan diri melihat tulisan yang terpampang jelas di dinding luar lantai dua rumah celaka itu, “Siapa pun yang naik dan masuk ke sini, akan mati.”

 

Aku tiba-tiba saja teringat bahwa tempo lalu aku telah melakukan kesalahan fatal dengan meringsek masuk dan naik ke lantai dua rumah itu tanpa izin bersama kawanku yang akhirnya tewas ditembak.

 

Aku sendiri tak tahu bagaimana aku bisa menyelamatkan diri di hari pengepungan itu. Yang jelas aku masih hidup, dan sekarang sedang digiring oleh segerombol orang berwajah tidak sopan menuju ruang penghakiman.

 

Babak Tiga

 

Kupikir ini benar-benar apa yang disebut sebagai ruang penghakiman. Kosong dan senyap. Tak ada apa pun di sini kecuali satu pintu besar berornamen kuno di hadapan kami bertiga.

 

Kami masih berdiri di depan pintu besar berornamen kuno itu dan suara seseorang yang entah dari mana asalnya, yang terdengar feminim, memerintahkan agar kami membungkuk lalu bersujud.

 

Tak butuh waktu lama bagi kedua kawanku untuk bersujud sedang aku tetap berkutat pada keyakinan bahwa tunduk berarti kalah.

 

Dan dengan kekuatan lebih, suara itu kembali muncul, menggema ke seluruh ruangan meski sejatinya hanya ditujukan kepada liang kupingku yang keras pendirian, “Bersujud!” Dan aku pun bersujud bersama kaki dan tangan dan kepala yang kikuk dan gemetar.

 

Babak kesunyian kami berakhir menjadi suara segerombol orang yang berwajah ramah yang berebut masuk dan mencari tempat paling depan. Mereka ingin menonton pertunjukan. Dan aku menerka kami bertigalah bahan pertunjukan itu.

 

Intuisi gelap begitu saja merekah di otakku di saat dua kawan tololku mengira kami semua, termasuk segerombol orang berwajah ramah yang baru saja masuk itu, akan menerima sebentuk pengobatan massal dari sang pemilik rumah.

 

Dan kami bertigalah berkat itu. Kami bertigalah sumber penciptaan karcis. Kami bertigalah uang bagi si pemilik rumah tua berarsitektur Jepang yang keparat sinting.

 

Satu tulisan berwarna mencolok terbit di atas pintu besar berornamen tua di hadapan kami, “Ruang pertunjukan penyiksaan.” Semua penonton bersorak.

 

Dan ruang di kepalaku hampir meledak oleh bayang kawan bajinganku yang tempo lalu dadanya meletus berdarah-darah lalu mati karena rumah ini.

 

Aku kabur. Meninggalkan dua kawan perempuanku yang dungu yang masih betah mematung di depan pintu besar di saat sebentar lagi kepala mereka mungkin akan dipenggal atau payudara mereka mungkin akan dipuntir dan dicincang sampai habis.

 

Aku kabur. Melewati barisan segerombol orang berwajah ramah berhati bangkai yang masih saja bersorak tanpa menyadari bahwa aku telah kabur.

 

Aku kabur. Aku berlari dan tak lagi menengok ke belakang dan menabrak seorang lelaki dan aku ingat bahwa aku memiliki seorang kekasih dan ialah orang itu.

 

Kami bersembunyi dan duduk berdua dan kepadaku ia berkata dengan keyakinan penuh kalau deritaku sudah purna dan aku telah bebas dan kepadanya kuberi jawab, “Rumah itu kutukan. Di manapun aku hidup, bagaimanapun aku melarikan diri, aku akan menjumpainya lagi, dan lagi, sampai aku mati dan bangkit lalu mati kembali.”


29 Oktober 2024


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJAMUAN PAGI

"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN