MANUSIA UNGGUL
Manusia itu eksistensi bukan esensi. Demikian pula kelamin adalah benda dan gender merupakan sifat. Dalam hal ini, aku lebih memilih menjadi manusia yang hidup eksis berkelamin tapi tanpa gender. Sebab mengaku-ngaku sebagai pemilik satu gender itu repot, apalagi dua, tiga.
Semua manusia adalah setara jika saja mereka tak melangsungkan debat kusir mengenai gender mana yang paling unggul, atau melakukan demo yang berisi tuntutan kesetaraan gender. Omong kosong. Sudah kukatakan sebelumnya, manusia adalah eksistensi. Unggul maupun tidaknya manusia bergantung pada sejauh mana otak mau diajak berpikir, bukan seindah apa vagina dan penis yang mereka miliki (catatan: kebanyakan masyarakat Indonesia mengutuk keras bentuk kelamin yang menyimpang dari jenis gender).
Manusia yang merasa terbebani oleh esensi gender merupakan semalang-malangnya makhluk. Ibarat hidup segan, mati silakan. Sedang Tuhan yaitu sebaik-baiknya Dzat, yang membuat-Nya tampak kejam adalah ceramah neurotik hamba-hamba Dia yang kebetulan sejak kecil salah asuhan.
Menurut psikolog Alfred Adler, orang yang selalu ingin dianggap superior justru sesungguhnya sedang mengidap perasaan inferior akut. Mereka kecil, lantas bagaimana caranya bisa terlihat besar, salah satunya yakni dengan langkah mencipta suatu paham radikal untuk memenuhi cara pandang manusia menggunakan esensi-esensi buatan yang kadang - bahkan malah - sering tampak tolol. Maka aku tak peduli esensi. Karena manusia merupakan eksistensi dan aku adalah manusia.

Komentar
Posting Komentar