SEDIKIT LAGI IA MIRIP DIOGENES

 

Diogenes (Jean Leon Gerome - 1860)


Aku belum bisa memahami jalan pikiran salah seorang temanku saat itu, ketika kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar, lalu tiba-tiba ia berdiri – berjalan – berhenti tepat di depan papan tulis kelas – membalik badan – membuka resleting celana dan sambil tertawa-tawa ia pamerkan kelaminnya di hadapanku dan perempuan-perempuan lain yang juga sedang berada di dalam kelas.

 

Menyaksikan bentuk kelamin laki-laki secara langsung, jelas, medadak, dan tanpa persetujuan membuat semua penonton berteriak histeris.

 

Dan walaupun aku juga histeris di awal, dengan didorong gagasan jahil sekaligus tanya perihal apakah temanku ini benar-benar gila atau tidak, kusuruh ia membuka celananya di tengah lapangan sekolah, dan ia melakukannya.

 

Ia melakukannya dalam pengaruh suka cita berlebih sampai arus lalu lintas di lapangan sekolah kami berubah kacau : semua pejalan yang dengan tidak sengaja menonton aksinya mendadak menjadi pelari yang tunggang langgang menjauhi kelamin temanku itu.

 

Rupanya ia sungguhan gila. Aku tertawa mampus menyaksikannya dari balik jendela.

 

Sampai beberapa minggu kemudian, penilaianku itu diubah oleh sebuah tragedi.


Aku baru saja kembali menuju kelas usai membeli beberapa camilan di kantin ketika kulihat teman-temanku berkerumun sambil tertawa dan menutup hidung di teras depan kelas kami.

 

Aku mendekati mereka dan ikut menutup hidung karena aroma di sana sungguh menyengat.

 

Di bawah barisan kaki teman-temanku yang sedang bergerombol dan tertawa itu, berjongkok seorang laki-laki yang – meski wajahnya ditenggelamkan di antara kedua pahanya karena malu, aku tahu pasti bahwa itu adalah temanku yang beberapa minggu lalu telah dengan bangga memamerkan kemaluannya di hadapan hampir seluruh penduduk sekolah.

 

Temanku yang sebelumnya kuduga gila itu, entah bagaimana ia berak dan kencing di celana. Sambil tetap menundukkan kepala, ia menangis, sangat keras – terlalu keras sampai badannya bergetar-getar dan tumpukan tahi yang sudah terlalu penuh di dalam celananya meluber keluar.

 

Semakin meledak tawa teman-temanku yang lain, semakin meluber tahi bercampur air kencing temanku yang sempat kusangka gila itu. Ia tampak tertekan sekali, dan kulihat beberapa lalat mulai terbang berputar-putar di sekitar celananya yang berubah warna menjadi kuning kecokelatan.

 

Kupikir jika ia benar-benar sinting, mestinya ia juga berani memamerkan tahi yang keluar dari anusnya itu. Tapi rupanya kepercayaan diri cuma milik kelaminnya, dan tidak dengan anusnya. Tahi yang meluber keluar dari dalam celana baginya masih merupakan sebuah penyimpangan moral yang patut membuatnya malu.

 

Andai temanku yang malang itu memiliki lebih banyak keberanian, juga otak yang kritis dan sinis terhadap konsep moral yang dianut manusia kebanyakan, mungkin ia akan terlihat seperti Diogenes dari Sinope.

 

Sayangnya tidak begitu.

 

Tak tahan ditertawakan penonton, ia bangkit dan berlari dan seiring langkah kakinya berpijak di atas tanah, tahinya jatuh berceceran membentuk garis putus-putus yang mengikutinya.

 

Temanku yang putus asa itu berlari semakin jauh, melompati pagar, dan menghilang di ujung kelokan jalan menuju perkampungan warga.

 

 

 

Semarang, 24 Maret 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJAMUAN PAGI

"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN

RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)