SEBUAH KEMATIAN YANG MEMBUATKU INGIN MENULIS

 

The Day of the Dead (William Adolphe Bouguereau - 1905)


Rumah kecil dengan banyak orang lalu lalang itu terletak persis di samping gereja tua. Aku memasukinya dan mendapati rekan kerjaku masih saja menangis meratap hingga nyaris pingsan untuk kesekian kali.


Mas Ari mati tanpa aba-aba. Dan sambil tetap menangis, kepada semua orang yang berkumpul di rumah itu rekan kerjaku bersumpah bahwa Mas Ari adalah sebaik-baiknya lelaki yang sudah sepatutnya mendapat pengampunan dari Tuhan maupun orang-orang yang secara konyol memutuskan untuk membencinya.

 

Sejujurnya aku sendiri tak begitu mempermasalahkan jika akhirnya Mas Ari memilih pergi ke pangkuan Tuhan. Saat rekan kerjaku menelepon-mengabariku bahwa Mas Ari tiba-tiba mati, aku terkejut dan menitikkan air mata satu kali, lalu buru-buru mengusapnya dengan tissue karena anak-anak didikku mulai bertanya apakah aku baik-baik saja, dan kujawab iya. Selanjutnya kurasa memang seharusnya aku baik-baik saja karena aku bahkan baru sekali bertemu dengan Mas Ari semasa hidup, dan dua kali di hari kematiannya ini.

 

Namun ada sesuatu yang ganjil. Mas Ari sedang dipersiapkan dengan baik sebelum memasuki peti mati ketika kupikir aku mulai mengaguminya untuk yang kedua kali. Kekaguman pertama muncul saat ia masih hidup bersama kegemarannya mengoleksi barang antik.

 

Enam bulan lalu aku mengiyakan tawaran rekan kerjaku untuk ikut berlibur dan menginap di rumah Mas Ari yang berada di wilayah perbukitan. Ia seorang tuan rumah yang berbudi halus, bermata teduh, dan tidak banyak bicara. Dan karena hampir separuh dari keseluruhan ruangan di rumahnya diisi oleh barang-barang antik, maka akulah yang berinisiatif mengajaknya bicara sebab aku sendiri juga menyukai hal-hal yang berpredikat lawas.


Rekan kerjaku terheran-heran tentang bagaimana Mas Ari tampak antusias berbicara kepadaku, padahal biasanya lelaki itu tak pernah lekas akrab dengan orang yang baru ditemuinya. Kukatakan pada rekan kerjaku itu bahwa kesamaan topik yang kami sukailah yang membuat obrolan kami menjadi hidup dan rekan kerjaku mengangguk mengerti.

 

Tapi perlu kubuat semacam pengakuan – aku cukup tersanjung atas kenyataan bahwa aku berhasil membuat seorang lelaki bermata teduh yang tak banyak bicara sebab jiwanya yang terperangkap dalam peradaban lampau itu tertarik untuk berlama-lama berbincang denganku. Esoknya, aku dan rekan kerjaku memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan tuan rumah yang kukagumi itu, percakapan kami berakhir.

 

Sama sekali berakhir sampai di hari pemakamannya tiba. Dan sebab Mas Ari yang sudah tak bisa lagi kuajak bicara, maka aku bertanya kepada rekan kerjaku yang masih saja menangis meratap itu perihal bagaimana Mas Ari mendadak mati.

 

Sambil tetap menangis, dan oleh karenanya aku mencoba menenangkan dengan mengelusnya di bagian punggung,  rekan kerjaku menjelaskan bahwa Mas Ari mati sebagai seorang Kristen yang taat. Lelaki itu membuka dan membaca beberapa ayat Alkitab sesaat sebelum tubuhnya mendadak kejang, muntah, terkulai sebentar, lalu mati.

 

Rekan kerjaku – yang masih saja menangis walau punggungnya sudah kuelus itu – menambahkan, beberapa hari sebelum Mas Ari mati ada cahaya asing yang masuk melalui celah atap rumahnya. Cahaya asing yang oleh rekan kerjaku, dan oleh kerabat Mas Ari yang lain, diyakini sebagai lentera kiriman setan.

 

Apa pertahanan diri seorang Kristen yang taat bisa ditembus oleh seberkas sinar kiriman setan? Aku tak tahu dan tidak tertarik juga untuk bertanya lebih jauh.

 

Pukul lima sore. Langit mulai gelap dan kudengar sebentar lagi Mas Ari akan dimakamkan. Sebelum benar-benar ditutup, aku berjalan mendekati peti matinya. Wajah lelaki itu tersenyum teduh. Aku mengaguminya untuk yang kedua kali dan kupikir Tuhan sendiri yang telah merenggutnya dalam damai.

 

Suasana semakin hening. Dan rekan kerjaku masih tetap menangis.

 

 

 

 

 

Semarang, 18 Oktober 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJAMUAN PAGI

"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN

RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)