BAKPAO HANUM
Biar kuceritakan sedikit. Dulunya aku ini seorang anak Sekolah Dasar yang
biadab: jahil tak ketulungan. Setiap hari harus ada teman sekelas yang menjadi
tumbal kegatalan tanganku. Aku hanya akan berhenti dan merasa puas apabila teman
yang kujahili itu sudah menangis – yang kemudian aku bakal membungkuk-bungkuk
sembari meminta maaf dengan wajah memelas agar korbanku itu tidak melaporkanku
kepada orangtuanya.
Aku takut. Zaman itu adalah musim lapor-lapor oleh anak ke
orangtua. Disenggol sedikit, anak bakal langsung memaksa orangtua mereka untuk
datang ke sekolah guna menegur atau bahkan memarahi dan kalau bisa langsung
mengeksekusi pelaku kenakalan menggunakan tamparan atau jeweran.
Suatu ketika
selepas jam pelajaran olahraga, tanganku mendadak gatal. Aku melihat kawanku
yang namanya kusamarkan menjadi Hanum, sedang menulis-nulis entah tulisan apa di
papan tulis kelas. Kudekati ia perlahan. Tanpa merasa canggung langsung
kupelorotkan celananya yang kedodoran. Ia sontak menganga, aku spontan tertawa.
Kawan-kawan di belakangku ikut tertawa. Ternyata Hanum tak pakai celana dalam.
Jelas sekali dua bakpao besar berwarna hitam milik Hanum itu menyembul di
pandangan mata.
Mampus. Ia naikkan celana olahraganya yang terlampau longgar
itu, lantas berlari keluar dari kelas yang masih riuh oleh tawa. Karena
gentle, aku turut berlari untuk mengejarnya. Aku dan Hanum bak lakon
sinema India. Ia berlari dengan derai air mata, dan aku mengejar membawa
penyesalan serta tanda tanya. Dasar aku ini bodoh, mengapa pula mesti ada tanda
tanya? Jelas-jelas ia menangis sebab celananya aku pelorotkan.
Hanum berhenti di
pojokan tiang penyangga gedung sekolah. Aku juga berhenti di belakangnya. Ia
masih terisak, aku makin terdesak. Bayang-bayang orangtuanya akan datang dan
menampol kedua tanganku di hadapan teman-teman kelas segera membuat dadaku
sesak.
Maka langsung kumunculkan jurusku, memelas. Membungkuk-bungkuk meminta
maaf. Berpura-pura ikut menangis padahal rasa geli masih menggelitiki otak.
Lama
Hanum tak menjawab permintaan maafku. Ia malah terus diam sambil menatap
burung-burung kecil di taman sekolah yang tampaknya sedang kawin. Lalu aku
mencoba melakukan pembelaan tolol, “Tenang saja, Han. Tadi di kelas
nggak ada anak cowok kok.” Dan ia tetap diam. Lagi-lagi, mampus.
Usai
lama menit terbuang cuma untuk menunggunya bicara, akhirnya ia bersuara, “Nggak
apa-apa kok, Lin.”
Aku lega. Setidaknya berarti tindakan lapor-lapor itu tak
akan ia lakukan.
“Kamu nggak salah, Lin.”
Aku mulai curiga.
“Aku sendiri
yang salah.”
Dan ujungnya aku wajib bertanya karena Hanum bersikap aneh. “Kok
begitu? Harusnya aku yang salah, kan sudah bikin kamu malu.”
Ia menghela
napas sebentar. Matanya kembali berkaca-kaca.
“Semua celana dalamku sudah kujual
ke tukang rongsok buat beli Kinder Joy.”

Komentar
Posting Komentar