BERAGAM MATI

Usiaku menginjak 21 sejak lima belas hari lalu. Kata kawan ibuku yang mengaku memiliki ajian Nyi Roro Kidul, umurku bakal panjang. Padahal aku sendiri sering begadang sampai pagi, minum kopi imitasi, makan mie instan, tak suka air putih, tinggal di kota, menjalin LDR, jarang curhat, dan sekarang juga jarang olahraga. Aku tidak percaya ramalan, dan kupikir aku akan mati muda seperti Chairil Anwwar atau Kurt Cobain, tapi jika demikian penerawangan kawan ibuku maka kuanggap itu sebagai do'a saja.

Sudah beberapa kali aku hampir mati. Waktu bayi, tubuhku digencet oleh orang dekat hingga keluar darah dari anus, kemudian seorang dekat yang lain memergoki dan menolong, akhirnya aku tumbuh besar. Mempercayai orang dekat sepenuh jiwa adalah salah satu kesalahan fatal yang lebih baik jangan diulangi. Suatu ketika aku melakukan kekeliruan sepele yang membuat orang terdekatku tersinggung, ia marah, tapi tertawa, sambil tangannya berusaha meluncurkan serangan fisik: menurutku ia menjelma semacam psikopat. Terkadang orang yang selalu ceria di hadapan umum belum tentu mentalnya sehat dan psikopat jauh lebih mengerikan ketimbang hantu.

Andai punya uang lebih, mungkin aku sudah membangun, tinggal, dan bersembunyi dalam sebuah rumah tanpa jendela serta pintu seperti yang dilakukan oleh tokoh utama cerpen "Manusia Kamar" karangan Seno Gumira Ajidarma yang terbit tahun 1981, kala itu Seno masih menggunakan Mira Sato sebagai nama pena. Yang demikian sebab kapitalisme telah melahirkan banyak manusia psikopat berkeliaran bebas: pandai berkamuflase, suka mencium pantat, mati empati, haus keuntungan pribadi. 

Seburuk-buruk kematian adalah kematian jati diri. Franz Kafka membuat Gregor Samsa berubah menjadi kecoak setelah narasi Metamorfosis menunjukkan bahwa jati diri manusia Gregor telah lama mati dicekik kebutuhan hidup. Aku sendiri mencintai sastra dan takut menikah, tapi jika kelak aku mempunyai anak maka rencana untuk menyisipkan kata "sastra" pada namanya bakal kubatalkan saja. Ungkap Kahlil Gibran dalam salah satu syairnya, "Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJAMUAN PAGI

"PAYUNG DARA" : BETAPA MASA PUBERTAS MENJADI BEGITU PELIK BAGI PEREMPUAN

RUMAH JAGAL (Sebuah Mimpi)